Kultur Sekolah
Nama : Nildaul Riskiana
NIM : 11901109
Kelas : PAI 4G
Mata Kuliah : Magang 1
“KULTUR SEKOLAH”
A. Pengertian Kultur Sekolah
Secara etimologis, budaya berasal dari bahasa Inggris yakni culture. Culture atau dapat diterjemahkan budaya adalah serangkaian aturan yang dibuat oleh masyarakat sehingga menjadi milik bersama dan dapat diterima oleh masyarakat. Namun secara terminologis pengertian kultur atau budaya merupakan way of life, yaitu cara hidup tertentu yang memancarkan identitas tertentu pula dari suatu bangsa. Kultur merupakan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh individu dan kelompok yang dapat ditunjukkan oleh perilaku organisasi yang bersangkutan. Kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara berfikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. Sedangkan pengertian sekolah adalah salah satu tempat berkembangnya pewarisan kultur dari generasi ke generasi berikutnya.
Kultur sekolah adalah budaya sekolah yang menggambarkan pemikiran-pemikiran bersama, asumsi-asumsi, nilai-nilai, dan keyakinan yang dapat memberikan identitas untuk suatu sekolah yang menjadi standar perilaku yang diharapkan. Kultur sekolah merupakan serangkaian keyakinan, harapan, nilai-nilai, norma, tata aturan, dan rutinitas kerja yang diinternalisasi warga sekolah sehingga mempengaruhi hubungan sejawat dan kinerja warga sekolah dalam upaya mencapai tujuan sekolah. Kultur inilah yang menjadi pembeda antara sekolah satu dengan sekolah lainnya.
Kultur sekolah dapat diartikan sebagai kualitas internal-latar, lingkungan, suasana, rasa, sifat dan iklim yang dirasakan oleh seluruh orang. Kultur sekolah merupakan kultur organisasi dalam konteks persekolahan, sehingga kultur sekolah kurang lebih sama dengan kultur organisasi pendidikan. Kultur sekolah dapat diartikan sebagai kualitas kehidupan sebuah sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai-nilai sebuah sekolah. Biasanya kultur sekolah ditampilkan dalam bentuk bagaimana kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya bekerja, belajar dan berhubungan satu sama lainnya sehingga menjadi tradisi sekolah. Kultur sekolah merupakan kreasi bersama seluruh masyarakat sekolah yang dapat dipelajari dan teruji dalam memecahkan kesulitan-kesulitan yang dihadaqpi sekolah dalam mencetak 8 lulusan yang cerdas, terampil, mandiri dan bernurani sesuai visi misi yang harapkan sekolah. Para ahli lain mendefinisikan budaya sekolah sebagai sebuah sistem orientasi bersama (norma-norma, nilai-nilai, dan asumsi-asumsi dasar) yang dipegang oleh warga sekolah yang akan menjaga kebersamaan unit dan memberikan identitas yang berbeda dari sekolah lain. Jadi, kultur sekolah sebagai keyakinan dan nilai-nilai milik bersama yang menjadi pengikat kuat kebersamaan mereka sebagai suatu warga masyarakat sekolah.
Jadi, kultur sekolah dapat diartikan sebagai kualitas internal latar, lingkungan, suasana, rasa, sifat dan iklim yang dirasakan oleh seluruh orang. Kultur sekolah merupakan kultur organisasi dalam konteks persekolahan, sehingga kultur sekolah kurang lebih sama dengan kultur organisasi pendidikan. Kultur sekolah juga dapat diartikan sebagai kualitas kehidupan sebuah sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai-nilai sebuah sekolah. Biasanya kultur sekolah ditampilkan dalam bentuk bagaimana kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya bekerja, belajar dan berhubungan satu sama lainnya sehingga menjadi tradisi sekolah.
B. Macam-Macam Kultur Sekolah
Kultur sekolah sangat mempengaruhi perubahan sikap maupun prilaku dari warga sekolah. Kultur sekolah sendiri dibedakan menjadi tiga macam, yaitu kultur sekolah yang positif, kultur sekolah yang negatif dan kultur sekolah yang netral, yaitu:
1. Kultur sekolah positif meliputi kegiatan-kegiatan yang mendukung (pro) pada peningkatan kualitas pendidikan, terdiri dari:
a) Ada ambisi untuk meraih prestasi, pemberian penghargaan pada yang berprestasi.
b) Hidup semangat menegakan sportivitas, jujur, mengakui keunggulan pihak lain.
c) Saling menghargai.
d) Trust (saling menghargai).
2. Kultur sekolah negatif meliputi kegiatan-kegiatan yang tidak mendukung (kontra) pada peningkatan kualitas pendidikan, terdiri dari:
a) Banyak jam kosong dan absen dari tugas.
b) Terlalu permisif terhadap pelanggaran nilai-nilai moral.
c) Adanya friksi yang mengarah pada perpecahan, terbentuknya kelompok yang saling menjatuhkan.
d) Menekan pada nilai pelajaran bukan pada kemampuan.
3. Kultur sekolah netral meliputi kegiatan yang kurang berpengaruh positif maupun negatif pada peningkatan kualitas pendidikan, terdiri dari:
a) Seragam guru.
b) Kegiatan arisan sekolah, jumlah fasilitas sekolah dan sebagainya.
C. Peran dan Fungsi Kultur Sekolah
Kultur sekolah diyakini memiliki peran dalam menghasilkan kinerja yang terbaik pada masing-masing individu, kelompok kerja atau unit kerja sekolah. Oleh karena itu, sekolah sebagai satu institusi, perlu membangun hubungan sinergitas antar warga sekolah yang positif agar memperbaiki kualitas sekolah yang bersangkutan. Beberapa kajian menunjukkan salah satu faktor penghambat pencapaian prestasi sekolah ialah kultur atau budaya sekolah. Oleh karena itu, untuk memperbaiki kualitas sekolah perlu dilakukan melalui sentuhan budaya sekolah terlebih dahulu jika mutu pendidikan ingin diperbaiki.
Dalam upaya meningkatkan mutu sekolah dituntut untuk terus menerus melakukan perbaikan, pengembangan kualitasnya melalui peningkatan kultur sekolah. Kultur sekolah memegang peranan penting dalam peningkatan mutu karena memiliki empat fungsi, yaitu:
1. Sebagai alat untuk membangun identitas (jati diri).
2. Kultur sekolah akan mendorong warga sekolah untuk memiliki komitmen yang tinggi.
3. Kultur sekolah akan mendorong terbentuknya stabilitas dan dinamika sosial yang berkualitas. Hal ini penting agar lingkungan sekolah menjadi kondusif tidak terganggu oleh konflik yang akan menghambat peningkatan mutu pendidikan.
4. Kultur sekolah akan membangun keberartian lingkungan yang positif bagi warga sekolah.
D. Membangun Kultur Sekolah
1. Menetapkan Visi, Misi, Tujuan dan Strategi Sekolah
Visi adalah cita-cita bersama warga sekolah dan segenap pihak yang berkepentingan pada masa yang akan datang yang mampu memberikan inspirasi, motivasi dan kekuatan pada warga sekolah dan segenap pihak yang berkepentingan untuk mencapainya. Misi sekolah adalah segala sesuatu yang harus dilakukan untuk mewujudkan visi. Tujuan sekolah menggambarkan tingkat kualitas yang ingin dicapai dalam jangka waktu menengah. Dan Strategi adalah cara-cara yang dilakukan sekolah untuk mencapai tujuan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
2. Membangun dan Memelihara Fisik Sekolah
Kultur sekolah tidak hanya dapat direfleksikan oleh bangunan fisik semata namun juga oleh aspek psikologis yang dapat mengkondisikannya sebagai tempat belajar siswa dan mengajar guru.
3. Penerapan Nilai-nilai dan Agama
Sebagai sebuah organisasi, sekolah adalah lembaga budaya yang tidak hanya memberikan pengajaran namun sangat penting untuk memberikan pendidikan kepada segenap warganya. Para guru yang professional melakukan tugasnya untuk mengajar, mendidik, membimbing, melatih, menggerakan bahkan mengarahkan para siswa agar kelak menjadi manusia yang cendikia, mandiri dan berbudi pekerti luhur. Diharapkan siswa kelak akan menjadi generasi yang akan ikut serta membangun dan dan memimpin bangsa. Sekolah sebuah organisasi dengan demikian perlu membangun kultur sekolah yang baik, sehat, dan positif.
Dalam membangun kultur sekolah yang baik, sehat dan positif perlu didasari oleh pengakuan bahwa manusia adalah mahluk Tuhan Yang Maha Esa sehingga segala apa yang dilakukan selalu diniatkan untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama yang dianutnya. Keyakinan dan nilai-nilai agama akan memberikan arahan untuk bekerja dan melakukan perbuatan yang diridhoiNya. Hal ini akan memberikan dampak positif kepada warga sekolah agar segala perbuatannya dapat dipertanggungjawabkan tidak hanya kepada manusia semata tapi mendapatkan nilai lebih di mata Tuhan Yang Maha Esa.
E. Karakteristik Kultur Sekolah
Kultur sekolah bersifat dinamis. Perubahan pola perilaku dapat mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun ini sangat sulit. Namun yang jelas dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan konflik dan jika ini ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan positif. Kultur sekolah itu milik kolektif dan merupakan perjalanan sejarah sekolah, produk dari berbagai kekuatan yang masuk ke sekolah. Sekolah perlu menyadari secara serius mengenai keberadaan aneka kultur subordinasi yang ada seperti kultur sehat dan tidak sehat, kultur kuat dan lemah, kultur positif dan negatif, kultur kacau dan stabil dan konsekuensinya terhadap perbaikan sekolah. Mengingat pentingnya sistem nilai yang diinginkan untuk perbaikan sekolah, maka langkahlangkah kegiatan yang jelas perlu disusun untuk membentuk kultur sekolah (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 7).
F. Identifikasi Kultur Sekolah
Kotter memberikan gambaran tentang kultur dengan melihat dua lapisan. Lapisan pertama sebagian dapat diamati dan sebagian lainnya tidak diamati. Dari pengelompokan ini maka dapat dipisahkan antara kultur yang dapat dilihat dengan yang tidak dapat dilihat, dan lapisan yang bisa diamati antara lain desain arsitektur gedung, tata ruang, desain eksterior dan interior sekolah, kebiasaan, peraturan-peraturan, cerita-cerita, kegiatan upacara, ritual, simbol-simbol, logo, slogan, bendera, gambar-gambar yang dipasang, tanda-tanda yang dipasang, sopan santun, cara berpakaian warga sekolah.
Sedangkan hal-hal di balik itu tidak dapat diamati, tidak kelihatan dan tidak dapat dimaknai dengan segera. Lapisan pertama ini berintikan norma perilaku bersama warga organisasi yang berupa norma-norma kelompok, cara-cara tradisional berperilaku yang telah lama dimiliki suatu kelompok masyarakat (termasuk sekolah). Norma-norma perilaku ini sulit diubah, yang biasa disebut sebagai artifak. Lapisan kedua merupakan nilai-nilai bersama yang dianut kelompok berhubungan dengan apa yang penting, yang baik, dan yang benar. Lapisan kedua ini semuanya tak dapat diamati karena terletak dalam kehidupan bersama. Kultur pada lapisan kedua ini sangat sulit atau bahkan sangat kecil kemungkinannya untuk diubah serta memerlukan waktu yang lama.
Kultur sekolah beroperasi secara tidak disadari oleh para pendukungnya dan telah lama diwariskan secara turun temurun. Kultur mengatur perilaku dan hubungan internal serta eksternal. Hal ini perlu dipahami dan digunakan dalam mengembangkan kultur sekolah. Nilai-nilai baru yang diinginkan tidak akan segera dapat beroperasi bila berhadapan/berbenturan dengan nilai-nilai lama yang telah berurat berakar akan dapat menghambat introduksi perilaku baru yang diinginkan. Stolp dan Smith membedakan antara kultur sekolah dan iklim sekolah. Kultur sekolah merupakan hal-hal yang sifatnya historis dari berbagai tata hubungan yang ada dan hal-hal tersebut telah diinternalisasikan oleh warga sekolah. Sedangkan iklim sekolah berada di permukaan dan berisi persepsi warga sekolah terhadap aneka tata hubungan yang ada saat ini. Kultur sekolah memiliki tiga lapisan kultur yaitu:
1. Artifak di permukaan,
2. Nilai-nilai dan keyakinan di tengah, dan
3. Asumsi yang berada di lapisan dasar.
G. Kesimpulan
Sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan seyogyanya memiliki kultur sekolah yang positif agar secara terus menerus dapat meningkatkan mutunya. Kultur sekolah yang positif akan menyemaikan nilai-nilai kehidupan dan kemanusiaan sehingga sekolah benar-benar dapat menjadi agen perubahan untuk menjadikan manusia Indonesia yang utuh, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berahlak mulia, sehat,berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Kultur sekolah harus dibangun berlandaskan visi, misi dan tujuan sekolah dengan menerapkan manejemen partisipatif dan terbuka sehingga benar-benar dipahami dan dihayati oleh seluruh warga sekolah dan para pemangku kepentingan sehingga dapat diimplemntasikan secara ikhlas dan konsisten untuk mencapai cita-cita yang telah ditetapkan dalam visi dan tujuan sekolah. Jika diimplementasikan dengan baik dan konsisten, kultur sekolah dapat meningkatkan kualitasnya secara terpadu untuk kepuasan pelanggan, baik pelanggan internal maupun pelanggan eksternal.
SUMBER
Imtihan, Nurul. 2018. Kultur Sekolah Dan Kinerja Peserta Didik MAN
Yogyakarta III. TADBIR: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam. Volume 6,
Nomor 2.
Efianingrum, Ariefa. 2013. Kultur Sekolah. Jurnal Pemikiran
Sosiologi. Volume 2, Nomor 1.
Permata Sari, Anggi. Hadi Pratiwi, Poerwanti dan Martiana,
Aris. 2019. Kultur
Sekolah dalam Membentuk Kedisiplinan Siswa di SMA Angkasa Adi Sutjipto Yogyakarta.
Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi. Volume 8, Nomor 2.
Kartika
Sari, Maya. Suyanti dan Budyartati, Sri. 2020. Pembinaan Kultur Sekolah Sebagai Upaya Pembentukan Karakter Di
SD Manisrejo 1 Madiun. Jurnal Bidang Pendidikan Dasar. Volume 4, Nomor
2.
Komentar
Posting Komentar