Karakteristik Peserta Didik
Nama :
Nildaul Riskiana
NIM :
11901109
Kelas :
PAI 4G
Mata Kuliah :
Magang 1
Karakteristik Peserta Didik
A.
Definisi Karakteristik Peserta Didik
Karakteristik
berasal dari kata karakter dengan arti tabiat/watak, pembawaan atau kebiasaan
yang dimiliki oleh individu yang relatif tetap. Karakteristik
merupakan suatu gaya hidup seseorang maupun nilai yang berkembang secara
teratur setiap hari yang mengacu kepada tingkah laku yang mengarah pada
kepribadian yang lebih konsisten dan mudah dipahami. Peserta didik
merupakan orang yang mendapatkan pengaruh dari berbagai kelompok yang sedang
melaksanakan pendidikan. Peserta didik merupakan unsur yang sangat penting
dalam kegiatan pembelajaran.
Karakteristik peserta didik didefinisikan
sebagai ciri dari kualitas perorangan peserta didik yang ada pada umumnya
meliputi antara lain kemampuan akademik, usia dan tingkat kedewasaan, motivasi
terhadap mata pelajaran, pengalaman, ketrampilan, psikomotorik, kemampuan
kerjasama, serta kemampuan sosial. Secara umum
karakteristik peserta didik yang disebut sebagai karakter individu ini dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor usia, latar belakang, dan
keturunan (gender). Faktor – faktor tersebut telah dibawa sejak peserta didik
lahir. Tetapi faktor tersebut juga dipengaruhi oleh keadaan dari lingkungan
sosial yang menjadi titik awal menentukan kualitas hidup.
B.
Faktor yang Mempengaruhi Karakteristik Peserta
Didik
1. Dalam diri individu
sendiri
Sejak berada dalam kandungan, janin tumbuh dan berkembang seseuai dengan
proses tahapannya. Jadi akan terdapat berbagai faktor yang mempengaruhinya,
yakni:
a) Bakat
Setiap bakat yang dimiliki oleh peserta didik dapat tumbuh dengan
sendirinya dan tergantung pada peserta didik itu sendiri mau atau tidak dalam
mengembangkan potensi bakat yang dimiliki.
b) Sifat keturunan
Berdasarkan fakta yang dimiliki oleh manusia, maka besar kemungkinan
bagi peserta didik untuk memiliki sifat yang berdasarkan garis keturunan yang dimiliki
oleh orang tua mereka.
c) Dorongan dan instik
Dorongan dan instik
yang dimiliki oleh peserta didik berasala dari batin mereka masing-masing.
Sehingga dorongan disini merupakan ambisi dari peserta didik untuk terus maju
dalam meningkatkan proses pembelajaran.
2.
Luar dari Individu
Faktor selanjutnya
yakni berdasarkan dengan keadaan lingkungan tempat tinggalnya yang dapat
mempengaruhi karakteristik peserta didik antara lain:
a) Makanan
Makanan maupun
minuman dapat mempengaruhi dan menghambat perkembangan peserta didik karena
setiap makanan dan minuman yang dikonsumsui dapat menjadi gizi dan racun bagi
kesehatan tubuh manusia.
b) Iklim
Iklim yang dimiliki
oleh suatu negara juga dapat memperuhi karakteristik peserta didi. Karena bila
iklim di sekitar mereka baik dan tidak buruk. Maka sedikit kemungkinan untuk
menghambat perkemangan karakteristik peserta didik.
c) Ekonomi
Ekonomi yang yang
dimiki oleh pserta didik juga mampu menghambat perkembangan karakteristik
peserta didik. Karena semakin tinggi ataupun semakin rendah suatu ekonomi yang
dimiliki maka akan besar pengaruhnya terhadap karakteristik yang dimiliki oleh
peserta didik.
3.
Umum
a) Intelegensi
Kemampuan
intelegensi ataupun intelektual yang dimiliki oleh peserta didik dapat
mempengaruhi ke dalam proses pembelajaran peserta didik.
b) Jenis kelamin
Jenis kelamin juga
bisa disebut sebagai penghambat karakteristik peserta didik. Karena setiap
laki-laki maupun wanita memilki perbedaan yang signifikan untuk diketahui oleh
peserta didik.
C.
Karakteristik Peserta Didik
1.
Pengetahuan
Pengetahuan merupakan suatu intelektual yang dimiliki oleh peserta
didik. Pengetahuan inilah yang disebut dengan intelegensi siswa yang harus
tetap dipertahankan untuk kemampuan peserta didik.
a) Arbitrarily
meaningfull knowledge (pengetahuan bermakna tak terorganisasi).
Pengetahuan ini merupakan tempat untuk mengaitkan suatu kemampuan
menghafal. Hafalan dalam hal ini merupakan hafalan yang tidak terlalu penting.
Namun masih memiliki makna penting bagi pengetahuan peserta didik. Sehingga
hafalannya hanya untuk memudahkan retensi.
b) Analogic knowledge
(pengetahuan analogis)
Pengetahuan seperti ini merupakan pengetahuan baru yang mengaitkan
pengetahuan dengan kemampuan peserta didik maupun pengetahuan baru yang masih
sama dan serupa serta berada di luar topik atau isi yang sedang dibacarakan.
c)
Superordinate knowledge (pengetahuan tingkat yang lebih tinggi)
Pengetahuan tingkat
yang lebih tinggi ini merupakan pengetahuan yang memiliki tingkat yang berada
diatas analogic knowledge. Jadi dalam hal ini pengetahuan tingkat lebih tinggi
dapat berfungsi sebagai tonggak atau kerangka bagi pengetahuan yang baru.
d)
Coordinate knowledge (pengetahuan setingkat)
Pengetahuan
setingkat ini merupakan pengetahuan yang berfungsi sebagai pengetahuan yang
komparatif.
e)
Subordinate knowledge (pengetahuan tingkat yang lebih rendah)
Pengetahuan tingkat
yang lebih rendah ini merupakan pengetahuan yang berfungsi untuk menyatakan
kebenaran pengetahuan baru yang sebenarnya. Sehingga dapat dibuktikan dengan
memberikan contoh-contohnya.
f)
Experiential knowlege (pengetahuan pengalaman)
Pengetahuan
berdasarkan pengalaman ini memiliki fungsi dan tujuan yang sama dengan
pengetahuan tingkat yang lebih rendah. Pada pengetahuan pengalaman ini juga
mengkonkritkan atau memberikan fakta dengan menyediakan bukti contoh untuk
pengetahuan baru.
g)
Cognitive strategy (strategi kognitif)
Strategi kognitif
yang dimaksud ialah suatu strategi yang menyediakan berbagai cara dalam
mengolah pengetahuan baru. Sehingga akan ada pemikiran ataupun pengungkapan
kembali terhadap pengetahuan yang telah tersimpan dalam memori ingatan
2. Gaya
a) Gaya belajar visual
Dalam gaya belajar
visual yang terjadi pada peserta didik dapat diketahui melalui ciri-ciri utama
yakni dengan menggunakan indera penglihatan. Reigeluth (1999) menjelaskan bahwa
gaya belajar dengan visual ini lebih suka berbicara cepat, suka mencoret-coret
saat menelpon, dan lebih suka melihat gambar peta beserta penjelasannya.pada
umumnya peserta didik dengan gaya visual ini biasanya menerapkan suatu strategi
visual yang sangat kuat dengan menyerap suatu informasi dengan ungkapan gambar.
Ciri-ciri gaya belajar visual yakni antara lain:
·
Bicara cepat
·
Lebih mementingkan penampilan
·
Bersikap rapi dan teratur
·
Tidak mudah terganggu bila ada keributan
·
Lebih suka membaca daripada dibacakan
·
Lebih suka mencorat coret meski bukan hal yang penting
·
Lebih suka mengingat wajah orang daripada mengingat namanya
b) Gaya belajar
auditorial
Bagi peserta didik
yang memiliki gaya belajar auditori dapt dikenal dan diketahui dengan ciri-ciri
yang lebih dominan yakni dengan menggunakan kekuatan indera pendengaran.
Reigeluth (1993) menjelaskan bahwa peserta didik yang memiliki gaya belajar
auditori lebih suka berbicara daripada membaca maupun menulis. Reigeluth (1999)
juga menyatakan bahwa “aku mendengar apa yang kau katakan”. Kecepatan dalam
berbicara juga sedang. Pada saat menyerap informasi umumnya orang bergaya
belajar auditori juga menerapkan adanya strategi pendengaran yang sangat kuat.
Sehingga pendidik yakni guru juga harus menerapkan pembelajaran yang memberikan
suatu variasi pengajaran yang dapat diterima dan dimengerti oleh peserta didik
dengan gaya belajar auditori. Ciri ciri gaya belajar auditorial yakni:
·
Pada saat bekerja suka berbicara kepada dirinya sendiri
·
Merasa terganggu bila ada keributan
·
Kesulitan dalam menulis maupun mengarang
·
Lebih suka bercerita
·
Menyukai lelucon dari lisan daripada dari komik
·
Bila berbicara dalam irama yang berpola
·
Bila berdiskusi selalu menggunakan kata kata yang Panjang
·
Selalu mengulangi kata kata yang terlontar dan dapat menirukan nada
pembicaraan orang lain
·
Lebih suka mendengarkan musik
·
Bila berbicara dengan orang lain selalu memalingkan penglihatannya dan
tidka melakukan kontak mata saat berbicara dengan orang lain.
c) Gaya belajar
kinestetik
Reigeluth (1993)
menjelaskan bahwa peserta didik yang menggunakan gaya belajar kinestetik lebih
suka menggerakkan anggota tubuhnya saat berbicar dan sulit untuk diam. Pada
umumnya peserta didik yang menggunakan gaya belajar kinestetik memahami
informasi dengan menggunakan strategi fisik dan mampu berekspresi dengan fisik
mereka. Adapun ciri-ciri yang dapat melihat peserta didik dengan menggunakan
gaya belajar kinestetik antara lain:
·
Berbicara dengan perlahan
·
Membutuhkan waktu untuk berpikir dalam berbicara maupun dalam bertindak
·
Penampilan selalu rapi
·
Tidak mudah terganggu dengan keributan
·
Bila belajar selalu menggunakan praktek menghafal dengan berjalan
·
Membuat keputusan berdasarkan perasan.
3. Minat
Minat merupakan
suatu hal yang berpengaruh besar tehadap belajar peserta didik. Apabila materi
pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat peserta didik maka, peserta
didik akan bersemangat dan tidak berambisi dalam mempelajarinya. Karena bagi
mereka, tidak akan ada daya tarik yang membuat mereka untuk berambisi dalam
mempelajarinya. Sehingga tidak akan ada kepuasan bagi peserta didik. Tapi jika
materi pelajarannya diminati dan dan menarik peserta didik maka akan
menumbuhkan minat dan menambah semangat terhadap kegitan pembelajaran. Peserta
didik yang kurang meminati materi pembelajaran, maka dapat diusahakan untuk
mempunyai minat yang cukup besar dengan cara menjelaskan menggunakan metode
yang menarik dan hal yang berguna bagi peserta didik. Serta dapat dilakukan
dengan mendongkrak semngat peserta didik untuk menjelaskan materi yang
berhubungan dengan cita-cita yang berkaitan dengan materi pelajaran yang akan
dipelajari.
4. Motivasi belajar
Motivasi dalam
proses pembelajaran sangat diperlukan. Karena pendidik harus mampu mendorong
dan mendongkrak peserta didik agar dapat belajar dengan tekun dan bersemangat
dalam merencanakan maupun melaksanakan sesuatu yang selalu ada hubungannya
dengan kegiatan belajar. Menurut Reigeluth (dalam Degeng, 1999) motivasi dapat
dibedakan menjadi dua macam yakni:
a) Motivasi intrinsik
Motivasi intrinsik
merupakan hal yang berasal dari dalam diri peserta didik sendiri yang dapat
mendorong untuk melakukan tindakan belajar. Motivasi intrinsik merupakan suatu
kesenangan materi yang menyangkut tentang kehidupan masa depan peserta didik
sendiri.
b) Motivasi ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik
merupakan suatu motivasi yang datang dari luar individu peserta didik yang
dapat mendorong untuk tekun belajar. Adanya hadiah maupun pujian merupakan
contoh yang konkrit pada motivasi ekstrinsik yang dapat mendongkrak peserta
didik untuk belajar. Tidak adanya motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik
dapat berpengaruh terhadap kurang bersemangatnya dalam melakukan proses
mempelajari materi pelajaran baik di sekolah maupun di rumah.
D.
Cara Menganalisis Karakteristik Peserta Didik
Reigeluth (dalam
Degeng, 1999) dalam menganalisis karakteristik peserta didik dapat dilakukan
dengan mengklasifikasikan menjadi tiga cara yakni kemampuan yang berkaitan
dengan:
1. Pengetahuan yang
akan diajarkan
2. Pengetahuan yang berada
diluar pengetahuan yang dibicarakan
3. Pengetahuan mengenai
ketrampilan generic
Pada klasifikasi
yang pertama ini berhubungan dengan pengetahuan yang akan diajarkan dan
meliputi berbagai tingkat pengetahuan sebagai berikut:
1. Pengetahuan tingkat
yang lebih tinggi (Superordinate knowledge)
Pengetahuan tingkat yang lebih tinggi ini merupakan pengetahuan yang
memiliki tingkat yang berada diatas analogic knowledge. Jadi dalam hal ini
pengetahuan tingkat lebih tinggi dapat berfungsi sebagai tonggak atau kerangka
bagi pengetahuan yang baru.
2. Coordinate knowledge
(pengetahuan setingkat)
Pengetahuan setingkat ini merupakan pengetahuan yang berfungsi sebagai
pengetahuan yang komparatif.
3. Pengetahuan tingkat
yang lebih rendah (Subordinate knowledge)
Pengetahuan tingkat yang lebih rendah ini merupakan pengetahuan yang
berfungsi untuk menyatakan kebenaran pengetahuan baru yang sebenarnya. Sehingga
dapat dibuktikan dengan memberikan contoh-contohnya.
4. Pengetahuan
pengalaman (Experiential knowlege)
Pengetahuan
berdasarkan pengalaman ini memiliki fungsi dan tujuan yang sama dengan
pengetahuan tingkat yang lebih rendah. Pada pengetahuan pengalaman ini juga
mengkonkritkan atau memberikan fakta dengan menyediakan bukti contoh untuk
pengetahuan baru.
Sedangkan dalam
klasifikasi kedua berkaitan dengan pengetahuan yang berada di luar konteks
pengetahuan yang akan dibicarakan yang meliputi berbagai identifikasi
pengetahuan sebagai berikut:
a) Pengetahuan bermakna
tak terorganisasi (Arbitrarily meaningfull knowledge).
Pengetahuan ini merupakan
tempat untuk mengaitkan suatu kemampuan menghafal. Hafalan dalam hal ini
merupakan hafalan yang tidak terlalu penting. Namun masih memiliki makna
penting bagi pengetahuan peserta didik. Sehingga hafalannya hanya untuk
memudahkan retensi.
b) Pengetahuan analogis
(Analogic knowledge)
Pengetahuan seperti
ini merupakan pengetahuan baru yang mengaitkan pengetahuan dengan kemampuan
peserta didik maupun pengetahuan baru yang masih sama dan serupa serta berada
di luar topik atau isi yang sedang dibicarakan.
Adapun klasifikasi
yang ketiga yang berhubungan dengan pengetahuan tentang ketrampilan generik
yakni meliputi:
1. Strategi kognitif (Cognitive
strategy)
Strategi kognitif
yang dimaksud ialah suatu strategi yang menyediakan berbagai cara dalam
mengolah pengetahuan baru. Sehingga akan ada pemikiran ataupun pengungkapan
kembali terhadap pengetahuan yang telah tersimpan dalam memori ingatan. Apabila
dilihat dari tingkat penguasaan, kemampuan awal peserta didik dapat
diklasifikasikan menjadi tiga antara lain:
·
Kemampuan awal siap pakai
Pada tahapan ini
lebih mengacu pada kemampuan awal, sebagaimana telah diidentifikasi oleh
Reigeluth. Sehingga peserta didik juga sudah bisa menguasainya. Selain itu
peserta didik juga dapat memakainya dalam situasi apaun.
·
Kemampuan awal siap ulang
Pada tahapan ini
mengacu pada kemampuan awal peserta didik, dimana peserta didik masih belum
menguasai materi yang seharusnya dipahami. Sehingga peserta didik bergantung
pada sumber sumber yang releva seperti buku untuk menggunakan kemampuan awal
siap ulang ini.
·
Kemampuan awal pengenalan
Pada tahapan
kemampuan awal pengenalan ini, peserta didik perlu mengulangi beberapa kali
agar lebih memahaminya. Sehingga dalam kemampuan awal ini masih tergantung pada
sumber buku yang relevan dan peserta didik juga terkadang belum menguasainya.
Pada setiap
pengidentifikasian kemampuan yng telah diidentifikasi (Reigeluth, 1993)
mengungkapkan bahwa kemampuan awal peserta didik ada yang masih mencapai
tingkat pengenalan, adapula yang mencapai siap pakai. Sehingga dalam
menganalisis karakteristik peserta didik perlu memperhatikan setiap kemampuan
awal yang bervariasi penguasaannya dari peserta didik yang satu terhadap
peserta didik yang lain. Pendidikpun juga perlu memperhatikan karakteristik
peserta didik. Dalam hal inikemampuan awal sangat penting berperan sebagai
pengembangan dalam pembelajaran khususnya dalam memilih strategi pembelajaran.
SUMBER
Janawi. 2019. Memahami Karakteristik Peserta Didik dalam Proses
Pembelajaran. Tarbawy: Jurnal Pendidikan Islam. Vol. 6, No. 2.
Asri Budiningsih, C. 2011. Karakteristik Siswa sebagai Pijakan
dalam Penelitian dan Metode Pembelajaran. Cakrawala Pendidikan. Tahun XXX,
Nomor 1.
Hanifah, Hani. Susanti, Susi dan Setiawan Adji, Aris. 2020. Perilaku
Dan Karakteristik Peserta Didik Berdasarkan Tujuan Pembelajaran. Manazhim:
Jurnal Manajemen dan Ilmu Pendidikan. Volume 2, Nomor 1.
Ramli, M. 2015. Hakikat Pendidik Dan Peserta Didik. Tarbiyah
Islamiyah. Volume 5, Nomor 1.
Sukring. 2013. Pendidik
dan Peserta Didik
dalam Pendidikan Islam. Yogyakarta: Graha
Ilmu.
Komentar
Posting Komentar